KR: 16/04/2009 08:19:51
KEKAGUMAN Prof Dr Marsono SU pada Serat Centhini sudah cukup lama. Ia tidak ragu mengatakan bahwa naskah tersebut merupakan karya masterpiece pujangga Jawa. “Di antara ribuan naskah Jawa dan naskah Nusantara yang lain, Centhini merupakan naskah yang baik dari ketebalan maupun kandungan isi teksnya punya keistimewaan,” katanya pada KR, di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Selasa (14/4).
Jumlah halamannya pun, tergolong besar. Mencapai 4.200 dalam 12 jilid. Menurut Marsono, Centhini ditulis pada tahun 1814-1823. Tim penulisnya dipimpin Adipati Anom Amangkurat III yang setelah menjadi raja bergelar Sunan Paku Buwana V. “Temanya adalah perjalanan tasauf menuju kesempurnaan hidup,” jelasnya sambil menunjukkan tokoh dalam naskah itu adalah Amongraga dengan tokoh bawahan Tambangraras. “Inilah ensiklopedi kebudayaan Jawa,” katanya. Sebab, Centhini memuat tentang segala ilmu yang terdapat di permukaan bumi Pulau Jawa. Bukan yang terdapat di benua-benua lain. Marsono, yang dosen FIB UGM itu juga menunjukkan kandungan ilmu dalam teks Centhini sangat beragam, meliputi sejarah, pendidikan, geografi, arsitektur, falsafah, agama, mistik, ramalan, sulapan, sampai ilmu kekebalan, perlambang, sampai flora, fauna, dan seni. Selain itu ia menemukan hal-hal yang dianggap porno pun diuraikan.
Hadirnya serat-serat semacam ini menunjukkan bahwa tradisi tulis-menulis sudah dimulai sejak pertengahan abad ke-7 Masehi. Sedang kegiatan secara intensif budaya tulis dalam lontar dan kertas dluwang khususnya pada etnis Jawa dimulai pada abad ke-9 Masehi. Sebelum Centhini, sudah ada saduran Ramayana dan Mahabharata dari bahasa Sansekerta yang isinya disesuaikan dengan budaya bangsa ini. Sedang Canthini itu sendiri ditulis pada bulan Januari 1814 dengan bahasa Jawa Klasik dalam bentuk puisi tembang macapat. Sampai sekarang bentuk pembahasan, pelatinan, dan penyadurannya sudah banyak dikerjakan orang. (Ata)-g