KOMPAS: Minggu, 12 April 2009 | 03:02 WIB
Ardus M Sawega
Wayang masih punya energi dan terus mengalami transformasi. Idiom dan filosofi lama tidak selalu membelenggu. Wayang selalu terbuka pada interpretasi baru, karena itu tetap aktual di segala masa.
Itulah kesan yang muncul ketika menyaksikan pementasan Risang Wrahatnala di Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah di Solo, Jumat (10/4) malam. Karya koreografer Wahyu Santoso Prabowo yang didukung 140 peraga ini mengusung label wayang orang ”alternatif”; untuk menyebutnya sebagai satu tawaran baru.
Bagi Wahyu Santoso Prabowo (56), penari alusan yang cakap dalam berbagai aspek kesenian Jawa–tari klasik, tembang, karawitan–ini, wayang niscaya telah menjadi bagian dari dunia pikirnya sehari-hari. Bersama Sujani Sabdoleksono yang menuliskan repertoarnya, Wahyu membuat terobosan di tengah ”kebekuan” pertunjukan wayang orang setempat, yang kondisinya sekarang ”hidup segan mati tak mau”.
Dia rupanya menyadari, wayang orang ditinggalkan publiknya antara lain karena pola garapannya, baik tari, dramaturgi, maupun aspek pemanggungan lainnya, tidak beringsut dari pola lama. Kalau pertunjukan konvensional berupa panggung prosenium, garapan Wahyu itu terasa spektakuler lewat dua panggung terpisah. Selain pendapa TBJT seluas 2.500 meter persegi, ada panggung terbuka di halaman depan, yang berundak-undak memanfaatkan kontur tanah.
Pertunjukan diawali di sini. Ada wajan-wajan besar dengan api yang berkobar-kobar, juga ada besalen pembuatan keris dengan pandenya yang tengah bekerja. Adegan ini menjelaskan proses pengembaraan spiritual Wrahatnala–nama samaran Arjuna, tatkala ia bersama saudaranya Pandawa terpaksa hidup dalam pengasingan, selama 12 tahun, setelah kalah berjudi dengan Kurawa (lakon ”Pendawa Dadu”).
Ketika menyamar sebagai guru seni, Wrahatnala harus menghadapi karmanya kala menolak cinta Batari Uruasi. Dia dikutuk sehingga kehilangan sakti, jiwanya lemah, dan berlaku seperti banci. Wrahatnala digambarkan ringkih dan terlunta-lunta. Adegan pun berganti ke pendapa besar.
Sisi gelap
Risang Wrahatnala menjadi metafora tentang tema besar bahwa hidup selalu mengandung sisi gelap. Itu pun berlaku pada Pandawa yang diklasifikasi sebagai kelompok satria, termasuk Arjuna yang lelananging jagad, simbol pria sejati, atau pada siapa saja. Nilai lebih repertoar ini kiranya adalah pengungkapan tentang sisi gelap manusia itu–yang sering diingkari; disimbolkan dalam wujud-wujud kasatmata tetapi tetap dalam bingkai estetika wayang.
Adapun pada Raja Matswapati–kakek jauh Pandawa–di Kerajaan Wiratha, sisi gelap itu diwujudkan sebagai bala raksasa Kencakarupa, Prahupakenca, Rajamala, dan para prajuritnya. Mereka berlaku seperti virus yang merongrong di masyarakat. Ini seperti mengingatkan bahwa pemimpin pemerintahan yang lemah dan serba ragu akan kehilangan wibawa di mata rakyatnya sehingga kerusuhan merajalela di mana-mana.
Ketika diingatkan, Raja Matswapati sempat membantah, tetapi itu hampir mencelakakannya. Beruntung ada Pandawa yang tengah menyamar–Wrahatnala (Arjuna), Salindri (Drupadi), Wijakangka (Puntadewa), Jagal Abilawa (Bima), Pinten (Nakula), dan Tangsen (Sadewa)–berhasil menyelamatkan dia.
Pertunjukan dengan durasi 2,5 jam ini terasa tak membosankan karena konsep pemanggungan yang dinamis. Selain keberadaan dua panggung–jadi problem bagi penonton–adegan demi adegan dibangun tidak linear seperti dramaturgi wayang orang yang lazim. Pesan-pesan filosofis yang biasanya verbal, di sini disampaikan lewat antawecana (dialog) yang bernas oleh para tokohnya sehingga sampai kepada audiens.
Spirit baru
Aspek pemanggungan digarap cukup cerdas dan musik karawitannya tampil kontemporer. Berbagai unsur musik etnik ditampilkan, dari samrah, tiupan saluang hingga ketukan musik Latin. Saat Wrahatnala di tengah pusaran kebimbangan, misalnya, iringannya gamelan sekaten yang keras-lugas ditingkah gesekan biola yang menyayat-nyayat. Pola garap tarinya amat variatif, tidak terjebak pada pola tradisi yang konvensional. Adegan-adegan tari kelompok, seperti cakil dan para raksasa, tampil dengan pola gerak yang amat atraktif.
Adegan intermezo atau ”hiburan” yang lazimnya diisi dengan dagelan para panakawan, atau tari gambyongan yang membosankan, kali ini diganti dengan tari massal zappin, tango dan salsa yang serba menggairahkan. Dengan penari yang seksi, dan irama musik diatonik yang rancak, adegan penuh gairah ini, termasuk sisipan tari kontemporer yang lain, tidak menimbulkan keganjilan, malah sebaliknya menggemaskan.
Di samping itu, tampilnya sosok Rangda Bali, setan-setanan, satwa singa dan macan, serta kelir putih sebagai backdrop untuk media wayang kulit, menegaskan bahwa pertunjukan wayang orang pada dasarnya sangat mengakomodasi trik-trik panggung dengan tujuan agar penonton terpesona menyaksikannya. Spirit berkesenian seperti inilah yang telah hilang dari pertunjukan wayang orang masa kini.
Pementasan Risang Wrahatnala menyembulkan harapan baru bahwa pertunjukan wayang orang belum sampai sandyakala. Lebih dari keberhasilan Wahyu yang menghimpun para penari dan seniman dari berbagai bidang; dari ISI Solo, WO Sriwedari, WO RRI Surakarta, dan Pura Mangkunegaran. Ia dan Sujani yang menulis repertoar mampu menafsirkan ulang filosofi di balik wayang yang telah mentradisi.