Kompas: Senin, 2 Maret 2009 | 15:08 WIB
Oleh Yoga Putra
Seabad silam, leluhur warga Desa Pendoworejo, Girimulyo, Kulon Progo, berusaha mengatur aliran Sungai Kayangan agar bisa mengairi sawah-sawah mereka yang kekeringan. Di bawah pimpinan tokoh bernama Mbah Bei Kayangan, mereka kemudian membangun bendungan air dari tanah, batu, dan kayu.
Upaya itu membuahkan hasil. Sejak bendungan terbangun, sawah yang berada di teras lereng kaki Perbukitan Menoreh itu selalu tergenang air. Sebagai wujud syukur, sebuah ritual kenduri dilaksanakan warga setiap Rabu terakhir di bulan Sapar menurut sistem penanggalan Jawa.
“Bulan Sapar dipilih karena pada bulan itulah bendungan selesai dibangun. Selain itu, bulan Sapar dimaknai sebagai bulan baik yang penuh berkah,” kata sesepuh budaya di Pendoworejo, Mulyono, Rabu (25/2).
Ritual juga untuk mengenang jasa-jasa Mbah Bei Kayangan. Orang kepercayaan Prabu Brawijaya V ini cikal-bakal keturunan warga Pendoworejo. Selain berhasil membuat bendungan, Mbah Bei Kayangan telah menerapkan sejumlah prinsip hidup masyarakat yang senantiasa dijaga hingga saat ini. Salah satunya kerukunan antarwarga.
Seperti layaknya pesta hajatan, ritual kenduri yang lalu dijuluki “Rebo Pungkasan” itu selalu berlangsung meriah. Warga akan dihibur oleh pertunjukan Ngguyang Jaran Kepang atau memandikan kuda lumping dengan aliran air Sungai Kayangan yang dipercaya mengandung berkah.
Keunikan lain dari kenduri itu, lanjut Mulyono, terletak pada jenis makanan yang disajikan. Tak hanya hidangan khas rakyat seperti nasi liwet, ingkung ayam, dan sayur gudangan saja yang disajikan, melainkan juga bothok lele dan panggang mas (telur ceplok) yang menjadi favorit Mbah Bei Kayangan.
“Kedua hidangan itu tidak bisa setiap hari dijumpai di Pendoworejo karena warga hanya membuatnya pada acara-acara khusus seperti Rebo Pungkasan kali ini,” tutur Mulyono.
Roda kehidupan senantiasa berputar. Masa kejayaan warga Pendoworejo perlahan-lahan surut hingga mereka tidak lagi mampu menggelar ritual berbiaya mahal itu. Selama 15 tahun, Rebo Pungkasan tidak lagi diadakan.
Namun, kerinduan akan kebersamaan dan spontanitas berkesenian sebagai ungkapan rasa syukur warga rupanya tak dapat lagi tertahan. Hingga akhirnya pada 2006, atas prakarsa sejumlah seniman yang tergabung dalam Paguyuban Desa Budaya Menoreh mulai menghidupkan kembali ritual Rebo Pungkasan di Bendung Kayangan.
Rabu lalu, revitalisasi budaya itu sudah berusia tiga tahun. Mata acara ritual semakin diperkaya. Kini, Rebo Pungkasan dilengkapi dengan pertunjukan tari anak-anak, tari makhluk tunggang, dan kegiatan melukis yang selalu dihadiri para pelukis kenamaan Yogyakarta seperti Godod Sutejo, Harsono, Djoko Sardjono, Dewobroto, dan pelukis lain yang tergabung dalam kelompok Selaras.
“Kami ingin mengembalikan nilai penting ritual ini kepada masyarakat sekitar. Tidak hanya sebagai ucapan rasa syukur, pengemasan ritual yang lebih atraktif juga dapat menarik minat wisatawan untuk hadir sehingga ada dampak yang mengimbas pada roda perekonomian lokal,” kata Godod.
Bendungan Kayangan sebenarnya sudah ditetapkan sebagai benda cagar budaya sekaligus obyek pariwisata di Kulon Progo. Akan tetapi, kondisi bangunan yang berusia lebih dari 100 tahun itu sudah tidak layak menjadi tujuan wisata masyarakat karena rusak di sana-sini.
Wakil Bupati Kulon Progo Mulyono yang menyempatkan diri hadir pada peringatan Rebo Pungkasan, beberapa waktu lalu, mengaku sudah mempersiapkan sejumlah rencana pembangunan sarana dan prasarana obyek wisata di Bendung Kayangan. Menurutnya, pembangunan tidak bisa dilakukan terburu-buru, melainkan harus teliti dan hati-hati agar tidak merusak bentuk asli Bendung Kayangan.
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo berencana menjadikan Pendoworejo sebagai desa wisata. Khusnul (36), ibu rumah tangga, mengatakan, jika desanya menjadi desa wisata, ia bisa mendapat penghasilan tambahan dengan berjualan makanan kepada wisatawan. Lebih dari itu, warga Bendung Kayangan tak perlu khawatir soal pendanaan ritual-ritual budaya seperti Rebo Pungkasan karena bisa diperoleh dari hasil urunan para pelaku wisata yang ada di sana. Tapi, pemerintah juga harus membina kami.
Saya sendiri tidak tahu apa-apa tentang wisata. Jangan sampai kami ini salah bersikap atau memberi informasi kepada wisatawan, nanti kami juga yang rugi, ujarnya. Hidupnya kembali ritual Rebo Pungkasan boleh jadi awal dari kebangkitan sosial, budaya, dan ekonomi Pendoworejo. Persoalannya tinggal mengaitkan masing-masing unsur dan kearifan lokal agar kuat dan andal. Semangat leluhur Mbah Bei Kayangan dalam membangun desa agaknya telah terwariskan kepada anak-cucunya….