Posted by: djarotpurbadi | March 3, 2009

Wayang Golek, Seni Adiluhung yang Makin ’Murung’

KR. 30/03/2008 05:28:05

DAHULU, di Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulonprogo, hidup seorang dalang wayang golek atau wayang thengul bernama Ki Widiprayitno yang cukup terkenal di era tahun 1950-an hingga 1970-an. Selain dikenal sebagai dalang wayang golek, ia juga dikenal sebagai dalang wayang kulit purwa. Nama kecilnya Regut. Ia keturunan dalang dari garis ayahnya maupun garis ibunya.

Menurut UJ Katidjo Wiropramudjo (1980), kecuali termasuk dalang wayang kulit purwa yang mahir, Ki Widiprayitno juga rajin menambah pengetahuan. Pada tahun 1923 ia belajar mendalang wayang golek Menak pada dalang Ki Prawiroyoso di Desa Pengasih Kabupaten Kulonprogo, seorang dalang wayang golek Menak yang mengabdi kepada Bupati Kulonprogo (saat itu), KRT Notoprajarto. Bupati tersebut memang memiliki seperangkat wayang golek Menak.

Konon, pada tahun 1925 wayang golek Menak dengan dalang Ki Prawiroyoso juga sempat ditampilkan di arena Pasar Malam Sekaten Yogyakarta, di Alun-alun Utara Yogya. Ki Widiprayitno, bersama dengan Katidjo Wiropramudjo juga pernah belajar bersama-sama seni pedalangan di Pasinaon Dhalang Surakarta Kaayoman Radya Pustaka (Padhasuka) dan mendapat ijazah pada tahun 1935. Mereka berdua kemudian bersama-sama membina perkumpulan Persatuan Dalang Kulon Progo (PDKP).

Pada tahun 1953, Ki Widiprayitno mementaskan wayang golek Menak pada hari ulang tahun pertama Paguyuban Anggara Kasih di Yogyakarta. Pergelaran wayang golek Menak tersebut disiarkan oleh RRI Yogyakarta dan berhasil menarik perhatian banyak orang.

Sejak saat itu, wayang golek Menak hidup kembali di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan kemudian disiarkan secara periodik oleh RRI Yogyakarta. Pentas wayang golek oleh Ki Widiprayitno semakin digemari, bahkan tidak hanya di Kulonprogo atau DIY, tetapi juga sampai ke Banyuwangi Jawa Timur dan Bandung Jawa Barat. Semuanya itu berkat dukungan dan usaha Direksi Balai Besar Kereta Api. Pergelaran di Bandung dilangsungkan atas usaha almarhum dalang kenamaan, RU Partasuwanda, di Bandung. Pertunjukan itu khusus hanya diperuntukkan para dalang.

Teknik pedalangan Ki Widiprayitno amat dikagumi orang, khususnya-tehnik perangnya, sehingga seorang dalang bernama Ujang Enyuh yang kemudian tinggal di Sukabumi, pernah belajar secara khusus kepada Ki Widiprayitno. Ki Widiprayitno dan Sukarno (anaknya) bahkan pernah melanglang buana ke Mesir, Eropa Timur dan Rusia (1958), India dan RRC (1961).

LAKON atau cerita wayang golek Menak berbeda dengan wayang golek Sunda. Wayang golek Sunda bersumber pada Mahabarata dan Ramayana, sedangkan wayang golek Menak yang dipentaskan oleh Ki Widiprayitno berasal dari Serat Menak karya RNg Yasadipura, pujangga sastra Jawa dari Surakarta. Menurut S Haryanto (1988), cerita Menak semula bersumber dari kesusasteraan Persia pada zaman pemerintahan Sul Harun Al Rasyid (766-809) berjudul Qissai Emr Hamza. Dalam cerita ini nama-nama tokohnya disesuaikan dengan Jawa, antara lain Omar bin Omayya menjadi Umar Maya, Qobat Shehriar menjadi Kobat Sarehas, Badi’ul Zaman menjadi Imam Suwongso, Mihrnigar menjadi Dewi Retno Muninggar, Qoraishi menjadi Dewi Kuraisin, Unekir menjadi Dewi Adininggar. Amir Hamzah diganti menjadi Amir Ambyah yang juga disebut Wong Agung Menak (bangsawan agung) dan terkenal pula disebut Wong Agung Jayengrana (bangsawan yang jaya di dalam peperangan).

Dalam cerita Menak dikisahkan, bahwa Wong Agung adalah seorang putra adipati Arya Dulmuntalib yang kemudian menjadi anak angkat Betal Femur, seorang sesepuh dari negeri Medayin. Sebagai prajurit Allah, Wong Agung menyebarkan agama Ibrahim dan menaklukkan para satria dan para raja yang belum masuk Islam. Kemudian Wong Agung tersebut gugur dalam pertempuran melawan raja Jenggi dari Kerajaan Ngabesah.

Di dalam wayang golek Menak, cerita itu kemudian diadaptasi secara lebih luas lagi menjadi lakon-lakon carangan dari Serat Menak Yasadipuran, misalnya Ganggamina Ganggapati, Pedhang Kangkan Pamor Kencana utawa Prabu Rara, Rengganis, dsb.

KETENARAN wayang golek Menak kini telah tenggelam. Bahkan wayang golek sebagai kesenian yang adiluhung, kini sedang ‘murung’. Nama Ki Regut Widiprayitno (alm) sudah tidak dikenal lagi oleh generasi muda. Apalagi ceritanya. Kenyataan itu disinyalir oleh Katidjo Wiropramudjo karena tiga hal. Pertama, pendapat sebagian orang bahwa pertunjukan wayang golek Menak tidak layak untuk meriahkan pesta perkawinan, khitanan, dsb. Anggapan ini muncul karena pertunjukan wayang golek mengakibatkan hal-hal yang tidak baik bagi orang yang berhajat atau keluarganya. Kedua, wayang golek Menak dipandang kurang bermutu dibandingkan dengan wayang kulit purwa yang memiliki kedalaman kejiwaan, falsafah, perlambangan hingga Ketuhanan. Ketiga, para dalang wayang golek mungkin sudah tidak menguasai teknik memainkan wayang golek, karena memainkan wayang golek berbeda dengan memainkan wayang kulit, terutama dalam sabet peperangan dengan berbagai senjatanya.

Kondisi yang menyedihkan seperti itu sebenarnya pernah terjadi pada tahun-tahun 1920-an sampai 1940-an. Bahkan, ketika sudah memasuki zaman kemerdekaan, belum terdengar adanya usaha menghidupkan kembali wayang golek Menak, walaupun iklimnya amat baik bagi segala jenis kesenian daerah.

Kebekuan dalam hal wayang golek Menak itu berjalan cukup lama. Baru pada tahun 1948 muncul prakarsa mengusahakan pementasan kembali wayang golek Menak. Prakarsa itu datang dari Djawatan Penerangan Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sesuai dengan tugasnya, kata Katidjo Wiropramudjo, Djawatan Penerangan saat itu memerlukan media untuk memberi penerangan kepada rakyat. Saat itu, wayang sangat digemari rakyat, sehingga dijadikan alat atau media penerangan. Pada awalnya diusahakan hingga jawatan tersebut memiliki dan menggunakan wayang suluh golek berupa boneka yang mukanya berbentuk topeng, sementara wayang suluh yang sudah dikenal masyarakat adalah dari kulit.

Usaha membuat wayang suluh golek saat itu mengalami kesulitan, karena sudah jarang orang dapat membuat (baca: mengukir) wayang golek. Di Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulonprogo, ada orang yang biasa membuat (menatah) wayang suluh kulit, namun tidak dapat mengukir wayang golek. Dari usahanya yang cukup tekun dan keras, akhirnya pada pertengahan tahun 1948 dapat diciptakan wayang suluh golek. Mukanya merupakan muka Belanda dan muka orang Indonesia yang dalam penyuluhan waktu itu merupakan tokoh-tokoh bertentangan yang perlu dihidup-hidupkan dalam hati rakyat.

Usaha rintisan itu dapat persetujuan Sekretaris Jenderal Kementerian Penerangan, Dr Roeslan Abdoelgani yang waktu itu secara langsung datang meninjau Djawatan Penerangan Kabupaten Kulonprogo di Sentolo. Beliau menyetujui menggunakan wayang suluh golek sebagai media penerangan, namun akhirnya gagal sama sekali, karena kesulitan pembiayaan dan terjadinya penyerbuan militer Belanda di Yogyakarta (clash kedua).
Setelah perang selesai, pada tahun 1953 wayang golek Menak hidup kembali hingga tahun 1980-an. Setelah itu, keadaan mulai menyurut kembali hingga saat ini.

Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian agar para penerus Ki Regut Widiprayitno seperti Ki Sukarno (putera Ki Widiprayitno), Drs Bambang Sumantri, Ki Gimin Darsosumarto, Ki Suparman Amat Jaelani alias Demung, serta dalang-dalang muda lainnya perlu memperoleh kesempatan untuk mementaskan wayang golek Menak. q -o

Penulis: Drs Dhanu Priyo Prabowo MHum, peminat seni pewayangan Jawa dan tinggal di Kulonprogo.


Leave a response

Your response:

Categories