Sebagai rangkaiaan tradisi& budaya yang tetap tumbuh di masyarakat, hari ini diselenggarakan Saparan Rabu Pungkasan di Bendung Kahyangan, Pendoworejo Girimulyo, Kulon Progo. Tradisi Rabu pungkasan inidalam sejarahnya merupakan ritual “climen” warga kampung Ngrancah, Kayangan, Turusan, jetis dan sekitarnya sebagai bentuk ucapan syukur atas Rahmat Allah SWT, setelah panen renddhengan usai. Bentuk ritual dimaksud adalah dengan mengadakan kenduri dan kembul dhahar di Bendung Kahyangan, sebuah bendungan (irigasi) yang melintas sungai Kahyangan peninggalan zaman Belanda yang sampai sekarang masih berfungsi baik.
Pada perkembangannya, ritual “climen” tadi sedikit bergeser settingnya pada dekade 3 tahun terakhir, setelah unsur seni dan budaya ikut andil memberi warna, sehingga acara menjadi lebih meriah, dalam bingkai kemasan seni pertunjukan luar ruang, namun tetap tidak kehilangan ruh, nilai-nilai spiritual, ancas tujuan serta makna dan harapan yang ingin direngkuh.
Sanggar Bodronoyo menjadi motor penggerak sekaligus “suh” kegiatan saparan ini dibantu dengan komunitas budaya, komunitas seniman (tari, lukis, teater, musik) mencoba memadukan dalam bentuk ekspresi dan kolaborasi kreatif, yang dikoordinir oleg seniman lukis Godod Sutejo dan sie arena Arjuni Rini.
Sebagaimana “kesepakatan” para motor penggeraknya, Saparan Rabu Pungkasan di Bendung Kahyanagan tetap steril dari kepentingan dari pihak manapun termasuk pihak birokrasi dan pemerintah. “kami ingin belajar menempatkan seni dan budaya lebih merdeka, karena pada hakekatnya urusan ritual, seni dan budaya adalah urusan rakyat murni, tidak boleh dicampuri dengan urusan lain dari pihak manapun” ujar salah satu panitia.
Hari ini prosesi dimulai dari Sanggar Bodronoyo dengan menggotong gunungan dan sejumlah sesaji menuju Bendung Kahyangan. Ada sesuatu yang baru dalam upacara hari ini, yakni iring-iringan prosesi bukan dikawal oleh prajurit, tetapi dikawal oleh Jathilan Punokawan yang lucu-lucu. Setelah sampai Kahyangan segera dilaksanakan kenduri dan Kembul dhahar, dilanjutkan beberapa pertunujkan seni, pameran dan pesta rakyat. salam damai KJG
Sumber: email Ki Jogogati, 25 Februari 2009