Posted by: djarotpurbadi | April 21, 2009

Menjaga Budaya Banjar Lewat Buku

KOMPAS: Senin, 20 April 2009 | 03:47 WIB

Rumah Syamsiar Seman di Jalan Anggrek 2 Kebun Bunga, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, bisa dikatakan sederhana. Ruang tamu tempat tinggal penulis yang menggeluti budaya Banjar di Kalsel dalam 33 tahun terakhir ini bersahaja. Di ruangan ini hanya ada satu set meja lengkap dengan kursi tamu. M Syaifullah

Hal yang membedakan rumah Syamsiar dengan rumah lain di sekitarnya adalah adanya lemari kaca berisi sekitar 50 buku. Buku-buku itu bukan koleksi perpustakaan pribadi, melainkan buah karya si empunya rumah yang menggeluti budaya Banjar.

”Setiap tahun rata-rata saya membuat satu sampai dua buku terkait budaya Banjar,” katanya.

Bagi kalangan peneliti budaya, arsitek, teknik sipil, hingga mahasiswa yang berminat mendalami arsitektur, seni ukir, dan rumah adat Banjar, nama Syamsiar-lah yang menjadi rujukan utama.

Pria kelahiran Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel, ini awalnya dikenal karena menerbitkan dua buku yang khusus membahas rumah adat dan arsitektur Banjar. Kedua buku itu adalah Rumah Adat Banjar terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1982) serta Arsitektur Tradisional Banjar Kalimantan Selatan (2001) yang dibuatnya bersama Ir H Irhamna dari Ikatan Arsitek Kalsel.

Selain memiliki kekhasan dalam seni arsitek dan seni ukir, masyarakat Banjar juga memiliki tradisi lisan yang kuat. Namun, tradisi lisan tersebut terancam punah karena sedikit sekali yang sudah dibukukan.

Tradisi lisan Banjar lebih banyak dilestarikan secara turun-temurun. ”Saya berusaha menjaga budaya Banjar dengan membuat buku dari tradisi lisan yang berkembang,” katanya.

Beberapa kalangan menyebut Syamsiar sebagai budayawan atau pemerhati budaya Banjar. Tentang hal ini dia berkata, ”Ah, itu kan mereka yang memberikan julukan.”

Akan tetapi, julukan itu terasa pantas disandang Syamsiar Seman. Sebab, hingga saat ini, penerima penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia Jakarta (1999) dan Borneo Award (2000) itu adalah salah satu penulis lokal yang paling produktif.

Untuk cerita rakyat, misalnya, Syamsiar telah menghasilkan lebih dari 12 judul buku. Terkait dengan pantun dan peribahasa Banjar, ada tiga buku.

Selain itu, ia juga membuat tiga jilid buku Lancar Basa Banjar yang menjadi buku pegangan sekolah dasar di Kalsel. Masih ada lagi tiga buku karya Syamsiar tentang Islam dan budaya Banjar.

Dia juga menulis buku tentang beberapa tokoh semasa Kerajaan Banjar dan saat kemerdekaan, di antaranya Hassan Basry, Bapak Gerilya Kalimantan, yang diterbitkan Lembaga Studi Perjuangan dan Kepahlawanan Kalsel (1999).

Tulisan tangan

Syamsiar sudah menekuni dunia tulis-menulis sejak duduk di kelas II SMP di Barabai. Tulisan pertamanya adalah cerita rakyat, Batu Benawa di Barabai, dimuat di majalah Kunang-Kunang terbitan Balai Pustaka (1952).

”Saya tidak diberi honor untuk tulisan itu, tetapi dikirimi buku Siti Nurbaya dan majalah yang memuat tulisan saya. Itulah yang membuat saya terus menulis,” katanya.

Sebelum usia 40 tahun, Syamsiar tak mengkhususkan diri menulis buku tentang budaya Banjar. Dia justru lebih banyak menulis cerita pendek, puisi, dan pantun. Selain media lokal, beberapa tulisannya pada kurun tahun 1955–1986 juga dimuat sejumlah surat kabar dan majalah di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya.

Syamsiar sedikitnya sudah menulis 78 puisi, 146 cerpen, 9 naskah drama, 6 lagu nasional dan daerah, 327 artikel, 58 makalah tentang budaya Banjar, dan sekitar 50 buku terkait arsitektur, seni, dan cerita rakyat Banjar.

”Sebagian tulisan itu saya buat dengan tulisan tangan,” katanya.

Di usia lanjut, Syamsiar masih membuat buku dengan tulisan tangan. Tulisan tangan itu dia serahkan kepada penerbit untuk diketik ulang, kemudian dibukukan. Dia tak memilih penerbit di Jawa, tetapi penerbit lokal di Banjarmasin, mengingat besarnya biaya untuk itu. Dia beruntung karena selalu ada penerbit lokal yang mau menerbitkan karyanya dengan cetakan di bawah 1.000 eksemplar.

”Saya menerbitkan buku-buku itu dengan modal sendiri. Paling banyak setiap cetak sekitar 500 eksemplar. Kalau habis, baru dicetak lagi. Alhamdulillah, dari buku-buku inilah rezeki datang,” ungkapnya.

Dulu, untuk memasarkan buku-buku itu, Syamsiar harus mendatangi satu per satu toko buku di Banjarmasin. Kini, toko buku besar seperti Gramedia di Banjarmasin secara rutin mengambil buku-buku budaya Banjar itu.

”Saya ikut senang. Ini berarti semakin banyak generasi muda di Kalsel yang mau mempelajari budaya lewat buku,” ucapnya.

Buah observasi

Buku-buku karya Syamsiar bukanlah hasil riset mendalam seperti yang dilakukan para peneliti. Buku-buku itu hasil observasi dan wawancara langsung dengan obyek yang ditulisnya.

Kepandaian menulis guru SD dan dosen di beberapa universitas di Banjarmasin ini terasah karena ia pernah menjadi wartawan. Syamsiar menjadi wartawan setelah mendapat kursus wartawan Pro Patria Yogyakarta selama 10 bulan pada 1956. Dia lalu bergabung dengan beberapa surat kabar dan majalah lokal.

Pengalamannya di dunia wartawan hingga tahun 1989 antara lain menjadi reporter Masyarakat Baru di Samarinda, koresponden Sinar Islam di Jakarta, koresponden Suara Pemuda Medan, dan menulis untuk majalah Pembina di Surabaya.

Syamsiar juga pernah menjadi wartawan Suara Kalimantan, wakil redaksi pada majalah mingguan Waja Sampai Kaputing, wakil pimpinan majalah seni dan budaya Bandarmasih, dan pemimpin redaksi pada buletin Keluarga Berencana di Banjarmasin.

”Saya sekarang sedang menyusun buku terkait makanan tradisional Banjar. Sedikitnya ada 41 macam kue khas yang ada di Banjar. Informasi itu saya dapatkan dari mendatangi beberapa warung yang menjual wadai (kue) Banjar. Sambil nongkrong di warung, saya bisa mendapatkan bahan-bahan untuk tulisan,” katanya.

Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan Syamsiar itu tampak sederhana. Namun dia berkeyakinan, dengan observasi langsung justru dia bisa memperkaya informasi tentang budaya yang akan ditulisnya.

Data Diri

• Nama: Syamsiar Seman • Lahir: Barabai, Kalimantan Selatan, 1 April 1936 • Profesi: Penulis budaya Banjar • Pendidikan: Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Banjarmasin • Pengalaman Kerja:- Guru sekolah rakyat sampai kepala sekolah dasar – Pegawai Kantor Gubernur Kalsel (1963-1974)- Eselon III BKKBN Kalsel (pensiun 1992)- Dosen Luar Biasa Fakultas Sospol Unlam (1977-1979), Fakultas – Dakwah IAIN Antasari (1979-1988), dan beberapa perguruan tinggi – swasta di Banjarmasin- Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Negara pada Institut Administrasi – Bina Banua (1982-1985) • Organisasi:- Sekretaris Dewan Kesenian Daerah Kalsel (1971-1977)- Ketua Badan Koordinasi Kesenian Indonesia Kalsel (1978-1980)- Anggota Pengurus Kesenian Daerah Kalsel (1994-kini)- Anggota Lembaga Budaya Banjar Kalsel (1997-kini) • Penghargaan:- Penghargaan Sastra dari Gubernur Kalsel (1977)- Penghargaan Windu Kencana Jakarta (1984)- Penghargaan Tanda Kehormatan Satyalencana Karya Satya Kelas III – dari Presiden (1989)- Penghargaan Tanda Kesetiaan Dwi Kencana Jakarta (1990)- Penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia (1999)- Borneo Award (2000)

Sumber: Kompas cetak, online.

Posted by: djarotpurbadi | April 16, 2009

Centhini, Ensiklopedi Budaya Jawa

KR: 16/04/2009 08:19:51

KEKAGUMAN Prof Dr Marsono SU pada Serat Centhini sudah cukup lama. Ia tidak ragu mengatakan bahwa naskah tersebut merupakan karya masterpiece pujangga Jawa. “Di antara ribuan naskah Jawa dan naskah Nusantara yang lain, Centhini merupakan naskah yang baik dari ketebalan maupun kandungan isi teksnya punya keistimewaan,” katanya pada KR, di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Selasa (14/4).


Jumlah halamannya pun, tergolong besar. Mencapai 4.200 dalam 12 jilid. Menurut Marsono, Centhini ditulis pada tahun 1814-1823. Tim penulisnya dipimpin Adipati Anom Amangkurat III yang setelah menjadi raja bergelar Sunan Paku Buwana V. “Temanya adalah perjalanan tasauf menuju kesempurnaan hidup,” jelasnya sambil menunjukkan tokoh dalam naskah itu adalah Amongraga dengan tokoh bawahan Tambangraras. “Inilah ensiklopedi kebudayaan Jawa,” katanya. Sebab, Centhini memuat tentang segala ilmu yang terdapat di permukaan bumi Pulau Jawa. Bukan yang terdapat di benua-benua lain. Marsono, yang dosen FIB UGM itu juga menunjukkan kandungan ilmu dalam teks Centhini sangat beragam, meliputi sejarah, pendidikan, geografi, arsitektur, falsafah, agama, mistik, ramalan, sulapan, sampai ilmu kekebalan, perlambang, sampai flora, fauna, dan seni. Selain itu ia menemukan hal-hal yang dianggap porno pun diuraikan.


Hadirnya serat-serat semacam ini menunjukkan bahwa tradisi tulis-menulis sudah dimulai sejak pertengahan abad ke-7 Masehi. Sedang kegiatan secara intensif budaya tulis dalam lontar dan kertas dluwang khususnya pada etnis Jawa dimulai pada abad ke-9 Masehi. Sebelum Centhini, sudah ada saduran Ramayana dan Mahabharata dari bahasa Sansekerta yang isinya disesuaikan dengan budaya bangsa ini. Sedang Canthini itu sendiri ditulis pada bulan Januari 1814 dengan bahasa Jawa Klasik dalam bentuk puisi tembang macapat. Sampai sekarang bentuk pembahasan, pelatinan, dan penyadurannya sudah banyak dikerjakan orang.       (Ata)-g


Posted by: djarotpurbadi | April 15, 2009

Wayang Orang: Wrahatnala, Menggali Kekuatan Tradisi

KOMPAS: Minggu, 12 April 2009 | 03:02 WIB

Ardus M Sawega

Wayang masih punya energi dan terus mengalami transformasi. Idiom dan filosofi lama tidak selalu membelenggu. Wayang selalu terbuka pada interpretasi baru, karena itu tetap aktual di segala masa.

Itulah kesan yang muncul ketika menyaksikan pementasan Risang Wrahatnala di Pendapa Taman Budaya Jawa Tengah di Solo, Jumat (10/4) malam. Karya koreografer Wahyu Santoso Prabowo yang didukung 140 peraga ini mengusung label wayang orang ”alternatif”; untuk menyebutnya sebagai satu tawaran baru.

Bagi Wahyu Santoso Prabowo (56), penari alusan yang cakap dalam berbagai aspek kesenian Jawa–tari klasik, tembang, karawitan–ini, wayang niscaya telah menjadi bagian dari dunia pikirnya sehari-hari. Bersama Sujani Sabdoleksono yang menuliskan repertoarnya, Wahyu membuat terobosan di tengah ”kebekuan” pertunjukan wayang orang setempat, yang kondisinya sekarang ”hidup segan mati tak mau”.

Dia rupanya menyadari, wayang orang ditinggalkan publiknya antara lain karena pola garapannya, baik tari, dramaturgi, maupun aspek pemanggungan lainnya, tidak beringsut dari pola lama. Kalau pertunjukan konvensional berupa panggung prosenium, garapan Wahyu itu terasa spektakuler lewat dua panggung terpisah. Selain pendapa TBJT seluas 2.500 meter persegi, ada panggung terbuka di halaman depan, yang berundak-undak memanfaatkan kontur tanah.

Pertunjukan diawali di sini. Ada wajan-wajan besar dengan api yang berkobar-kobar, juga ada besalen pembuatan keris dengan pandenya yang tengah bekerja. Adegan ini menjelaskan proses pengembaraan spiritual Wrahatnala–nama samaran Arjuna, tatkala ia bersama saudaranya Pandawa terpaksa hidup dalam pengasingan, selama 12 tahun, setelah kalah berjudi dengan Kurawa (lakon ”Pendawa Dadu”).

Ketika menyamar sebagai guru seni, Wrahatnala harus menghadapi karmanya kala menolak cinta Batari Uruasi. Dia dikutuk sehingga kehilangan sakti, jiwanya lemah, dan berlaku seperti banci. Wrahatnala digambarkan ringkih dan terlunta-lunta. Adegan pun berganti ke pendapa besar.

Sisi gelap

Risang Wrahatnala menjadi metafora tentang tema besar bahwa hidup selalu mengandung sisi gelap. Itu pun berlaku pada Pandawa yang diklasifikasi sebagai kelompok satria, termasuk Arjuna yang lelananging jagad, simbol pria sejati, atau pada siapa saja. Nilai lebih repertoar ini kiranya adalah pengungkapan tentang sisi gelap manusia itu–yang sering diingkari; disimbolkan dalam wujud-wujud kasatmata tetapi tetap dalam bingkai estetika wayang.

Adapun pada Raja Matswapati–kakek jauh Pandawa–di Kerajaan Wiratha, sisi gelap itu diwujudkan sebagai bala raksasa Kencakarupa, Prahupakenca, Rajamala, dan para prajuritnya. Mereka berlaku seperti virus yang merongrong di masyarakat. Ini seperti mengingatkan bahwa pemimpin pemerintahan yang lemah dan serba ragu akan kehilangan wibawa di mata rakyatnya sehingga kerusuhan merajalela di mana-mana.

Ketika diingatkan, Raja Matswapati sempat membantah, tetapi itu hampir mencelakakannya. Beruntung ada Pandawa yang tengah menyamar–Wrahatnala (Arjuna), Salindri (Drupadi), Wijakangka (Puntadewa), Jagal Abilawa (Bima), Pinten (Nakula), dan Tangsen (Sadewa)–berhasil menyelamatkan dia.

Pertunjukan dengan durasi 2,5 jam ini terasa tak membosankan karena konsep pemanggungan yang dinamis. Selain keberadaan dua panggung–jadi problem bagi penonton–adegan demi adegan dibangun tidak linear seperti dramaturgi wayang orang yang lazim. Pesan-pesan filosofis yang biasanya verbal, di sini disampaikan lewat antawecana (dialog) yang bernas oleh para tokohnya sehingga sampai kepada audiens.

Spirit baru

Aspek pemanggungan digarap cukup cerdas dan musik karawitannya tampil kontemporer. Berbagai unsur musik etnik ditampilkan, dari samrah, tiupan saluang hingga ketukan musik Latin. Saat Wrahatnala di tengah pusaran kebimbangan, misalnya, iringannya gamelan sekaten yang keras-lugas ditingkah gesekan biola yang menyayat-nyayat. Pola garap tarinya amat variatif, tidak terjebak pada pola tradisi yang konvensional. Adegan-adegan tari kelompok, seperti cakil dan para raksasa, tampil dengan pola gerak yang amat atraktif.

Adegan intermezo atau ”hiburan” yang lazimnya diisi dengan dagelan para panakawan, atau tari gambyongan yang membosankan, kali ini diganti dengan tari massal zappin, tango dan salsa yang serba menggairahkan. Dengan penari yang seksi, dan irama musik diatonik yang rancak, adegan penuh gairah ini, termasuk sisipan tari kontemporer yang lain, tidak menimbulkan keganjilan, malah sebaliknya menggemaskan.

Di samping itu, tampilnya sosok Rangda Bali, setan-setanan, satwa singa dan macan, serta kelir putih sebagai backdrop untuk media wayang kulit, menegaskan bahwa pertunjukan wayang orang pada dasarnya sangat mengakomodasi trik-trik panggung dengan tujuan agar penonton terpesona menyaksikannya. Spirit berkesenian seperti inilah yang telah hilang dari pertunjukan wayang orang masa kini.

Pementasan Risang Wrahatnala menyembulkan harapan baru bahwa pertunjukan wayang orang belum sampai sandyakala. Lebih dari keberhasilan Wahyu yang menghimpun para penari dan seniman dari berbagai bidang; dari ISI Solo, WO Sriwedari, WO RRI Surakarta, dan Pura Mangkunegaran. Ia dan Sujani yang menulis repertoar mampu menafsirkan ulang filosofi di balik wayang yang telah mentradisi.

Posted by: djarotpurbadi | April 15, 2009

Napak Tilas Kawruh Kejawen

KOMPAS: Rabu, 15 April 2009 | 13:37 WIB

Oleh KI JURU BANGUNJIWA

Pewarisan kawruh Kejawen atau falsafah Jawa dari generasi ke generasi berikutnya pada umumnya tidak disertai bahasa yang rasional dan mudah dipahami. Maka, sebagai akibatnya, kawruh Kejawen di masa kini banyak yang tidak dimengerti oleh orang Jawa sendiri. Bahkan kemudian banyak yang menganggap kawruh Kejawen atau klenik. Anggapan Kejawen sebagai tahayul atau klenik tersebut sudah pasti tidak nyaman dirasakan bagi kebanyakan orang Jawa. Oleh karena itulah, diperlukan penjelasan-penjelasan yang masuk akal tentang Kejawen guna menepis anggapan minor tersebut.

Untuk itulah, diperlukan sebuah usaha penjelasan sekaligus upaya menggugah kesadaran Jawa untuk kembali memiliki kedaulatan spiritual hingga kembali berjaya dalam peradaban umat manusia. Saatnya Jawa menyumbangkan cita-cita peradaban umat manusia yang ayem tentrem kerta raharja.

Jelas bahwa kawruh Kejawen adalah falsafah hidup orang Jawa. Merupakan sebuah kristalisasi pengalaman hidup orang Jawa sejak zaman prasejarah hingga zaman globalisasi saat ini. Sebagian besar merupakan hasil interaksi dan observasi orang Jawa dengan alam semesta di Pulau Jawa. Sudah barang tentu ditambah hasil interaksi dengan falsafah dan kebudayaan bangsa-bangsa lain yang berdatangan ke Jawa sejak ratusan tahun lalu.

Dikarenakan sifat alam tanah Jawa vulkanis subur, warga masyarakat semenjak dahulu hidup bercocok tanam. Cara hidup agraris menjadi nuansa falsafah dan kebudayaan orang Jawa selalu selaras dengan suasana agraris yang mengutamakan mencapai kondisi masyarakat yang laras, ayem tentrem, dan rukun. Dengan demikian, tumbuh kembangnya naluri nalar dan rasa pangrasa orang Jawa selalu memuat tujuan dan upaya mencapai situasi dan kondisi masyarakat yang laras ayem tentrem kerta raharja dan rukun. Karena memiliki dasar tujuan yang seperti itu, maka menjadikan orang Jawa memiliki watak lower dan bisa menerima siapa saja sebagai saudara.

Karena memiliki toleransi yang kuat, orang Jawa bisa menerima dengan baik masuknya falsafah dan kebudayaan bangsa lain. Selanjutnya malah bisa membaur dengan rukun. Konon orang Jawa pandai menyinergikan falsafah dan kebudayaan aslinya dengan semua falsafah dan kebudayaan lain yang diterima. Kejawen merupakan tuntunan atau ajaran hidup yang di dalamnya termasuk konsep kebertuhanan orang Jawa. Maka Kejawen juga mencakup masalah hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta seisinya yang khas orang Jawa. Sedemikian rumit dan luas cakupan Kejawen sehingga pada masa kini masyarakat Jawa sendiri banyak yang tidak memahami Kejawen itu sendiri. Bahwa teologi, mitologi, kepercayaan, tradisi, dan adat Jawa adalah masuk akal sering diabaikan, dianggap yang tidak-tidak. Oleh karena itulah, perlu pemahaman agar ada saling pengertian antarkomponen bangsa.

Apa pun anggapan orang tentang Kejawen, kenyataannya sejauh ini Kejawen sudah berhasil mengampu perjalanan masyarakat Jawa sejak ribuan tahun yang lalu hingga kini. Maka Kejawen pasti memiliki sisi positif. Buktinya Jawa merupakan salah satu bagian bumi yang padat penduduknya. Posisi Jawa untuk Indonesia sangat penting. Pulau Jawa yang luasnya cuma 6 persen luas daratan Indonesia, namun menampung 60 persen penduduk Indonesia. Dengan demikian, jelas bisa dibuktikan bahwa situasi dan kondisi di Jawa sangat nyaman bagi umat manusia untuk berkembang biak dan bermukim.

Kenyamanan itu salah satu penyebabnya adalah sistem kemasyarakatan Jawa yang beradab serta tidak senang konflik. Sistem kemasyarakatan sudah pasti terbangun oleh adanya falsafah hidup masyarakat yang tidak lain kawruh Kejawen. Begitu rupa beradab dan berbudayanya Jawa sehingga di pulau ini ada peninggalan tempat melaksanakan ritual agama seperti Borobudur yang megah dan Candi Prambanan yang anggun. Indah dan populis

Yang sangat menarik adalah berkembangnya agama Islam yang tumbuh subur di Jawa sampai-sampai dinyatakan bahwa umat Islam terbesar dalam jumlah di dunia ini adalah Indonesia. Perlu diingat bahwa 60 persen penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam tinggal di Jawa. Ingat juga tradisi halalbihalal pada hari raya Idul Fitri yang dikembangkan dari tradisi sungkeman khas Jawa. Selanjutnya berkembang pula menjadi tradisi mudik yang khas Jawa. Makna hari raya besar Islam ini menjadi indah dan populis. Kalau dikatakan bahwa Jawa sebelum masuknya agama-agama dari Asia daratan merupakan “zero zone” budaya kiranya tidaklah masuk akal. Karena banyak produk budaya Jawa yang kemudian mewarnai kebudayaan- kebudayaan Hindu, Buddha, dan Islam. Di antaranya bangungan-bangunan candi dan masjid di Jawa yang khas dan tidak diketemukan di tempat asal agama-agama tersebut. Demikian pula produk kesenian Jawa berupa gamelan, wayang, seni tari, batik, dan lain sebagainya jelas merupakan asli Jawa yang mempunyai kualitas dunia.

Begitu kayanya ragam budaya Jawa yang merupakan hasil kreativitas masyarakat Jawa. Keragaman tersebut juga atas pengaruh kebudayaan pendatang sehingga tidak mudah menelusuri dan memilah serta memilih untuk menemukan yang asli Jawa. Namun begitu, masih bisa dikenali mengapa Jawa bisa menjadi media subur untuk tumbuh kembangnya agama-agama besar di dunia.

Meskipun cakupan falsafah Jawa atau kawruh Kejawen sedemikian luas meliputi seluruh aspek kehidupan, ada beberapa pokok pandangan Jawa yang bisa dijadikan wacana dialog peradaban dan budaya. Pandangan atau konsep dasar falsafah Jawa meliputi adanya Tuhan, jagat raya, asal-usul manusia, mitologi Jawa, tata peradaban dan laku budaya, tata penanggalan dan basa atau carakan Jawa. Berpijak pada konsep Jawa tersebut maka bisa dipaparkan sumbangan pemahaman dan pandangan atau paradigma baru tentang wawasan kebangsaan kita. Bahkan, besar kemungkinan untuk menopang tegaknya peradaban Nusantara di mata dunia.

Bahwa sampai saat ini peradaban dan budaya Bali telah mampu menundukkan hati nurani umat manusia seluruh dunia, maka Jawa yang memiliki akar peradaban dan budaya yang sama dengan Bali pasti mampu pula menundukkan hati nurani dunia. Kalau Bali diakui sebagai Pulau Dewata, maka meminjam istilah Prof Dr Damarjati, Jawa bisa jadi Tamansarinya dunia.

KI JURU BANGUNJIWA Pengamat sekaligus Pelaku Budaya, Tinggal di Bangunjiwa, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta


Posted by: djarotpurbadi | April 4, 2009

Rindu Padang Bulan

Ini adalah ruang rindu

dimana tawa anak-anak itu masih menggema

dimana ruang-ruang itu masih leluasa

di jamah, di hiasi dan di ajak bercanda

semakin renta ruang itu semakin sempit

dimanakah anak-anak itu akan berpijak?

di ruang-ruang playgroup yang eksklusif?

di lapangan-lapangan sempit tanpa rumput dan tanaman perdu?

ataukah…..

kini mereka keluar dengan senjata

dengan mulut ternganga, melempar caci-maki

yang tak tahu untuk apa mereka mencaci

Ruang Rindu adakah sekilas romantis?

adakah sesaat nostalgia di bawah pohon mangga depan rumah

atau pohon jambu samping rumah?

atau lincak-lincak bambu karya tangan-tangan perkasa

titian tangga itu, sebuah panutan untuk masa depan

anak-anak itu beriring, mengiring cita-cita setinggi langit

dimana orangtua berkisah tentang NawangWulan

tentang Joko Tarub

esok hari lengkung pelangi berhias diri

membangunkan bulan yang mulai pucat

Kau limpahkah gerimis kecil bersama embun

Kau semangati langkah-langkah kecil itu

dan hari bergulir

berganti senja ketika kau masih menghirup udara segar….

.

Handoko

pandjoel_here@ yahoo.com

Posted by: djarotpurbadi | April 2, 2009

Mimpi Mbah Udju, Pustakawan Kampung

KOMPAS: Jumat, 27 Maret 2009 | 02:49 WIB

Oleh HER SUGANDA

3258086pIbarat batu karang, Djudju Djunaedi atau Mbah Udju, selama 20 tahun lebih tak pernah surut dari mimpinya. Setiap hari sepulang bekerja di Perkebunan Karet Gunung Hejo, PT Perkebunan Nusantara VIII, ia berkeliling kampung-kampung di Kecamatan Darangdan, Purwakarta, dengan berjalan kaki. Dengan sabar ia menyambangi penduduk desa, menawarkan jasa meminjamkan buku dan majalah dari rumah ke rumah.

Hasilnya? Ada orang yang mau membaca buku dan majalah yang dibawanya saja sudah untung. Namun, sebagian besar orang desa yang didatangi malah menolak tawarannya dengan berbagai alasan.

”Kayak orang gedean saja membaca buku dan majalah,” ia menirukan salah satu alasan warga.

Bagi mereka membaca bukan kebutuhan. Membaca buku atau majalah dianggap kemewahan, hanya menjadi milik orang kaya di perkotaan. Padahal, Mbah Udju tak menentukan tarif untuk buku dan majalah yang dipinjamkan.

”Asal orang mau membaca saja saya sudah senang,” katanya.

Walau hanya mengenyam pendidikan formal di sekolah rakyat (kini sekolah dasar) dan bekerja sebagai karyawan rendahan, ayah dua anak ini memulai kegiatan dengan meminjamkan buku dan majalah yang sudah dibaca anak sulungnya, Edi Rohman. Sejak umur empat tahun, Edi gila membaca.

”Kalau saya pulang dari mana-mana, yang ditanyakan bukan ole-ole, tetapi buku,” katanya.

Buku dan majalah mula-mula dipinjamkan kepada anak-anak yang ayahnya bekerja sebagai karyawan di lingkungan perkebunan. Mereka diajari membaca oleh istrinya, Heni Saeni. Dua tahun kemudian ia meluaskan wilayah kegiatan ke lingkungan penduduk lain yang masih sekampung.

Desa Gunung Hejo, tempat keluarga ini tinggal, terdiri atas 17 rukun tetangga. Dengan sabar dan tak kenal lelah, selama dua tahun, satu per satu penduduk didatangi. Mimpinya menjadi pustakawan kampung mengalahkan rasa lelah. Dengan menyelendang kantong besar berisi majalah dan buku, ia mendatangi warga Desa Darangdan, tetangga Desa Gunung Hejo.

Desa itu sebenarnya pusat kecamatan. Namun, tak mudah mengubah sikap penduduknya. Selama dua minggu ia mendatangi warga desa, tak seorang pun yang mau meminjam buku dan majalah.

Bahkan, di Desa Sawit, tetangga Desa Darangdan, selama dua bulan Mbah Udju menyambangi warga, juga tak seorang pun yang mau meminjam buku dan majalah. ”Tapi, saya tidak pernah putus asa,” ujarnya.

Tak kenal lelah

Macam-macam cara ditempuh Mbah Udju agar warga desa di sekitar tempat tinggalnya punya minat baca. Ia pernah memberikan majalah, malah diacak-acak, diguntingi untuk kliping salah seorang murid SMP.

”Walau sebelumnya saya sering datang ke desanya, anak itu tidak pernah meminjam buku atau majalah,” katanya.

Untuk majalah yang ”dirusak” itu pun Mbah Udju tak meminta ganti rugi sepeser pun. Sebagai imbalan, ia hanya mengajukan syarat agar anak itu datang lagi dengan membawa teman-teman.

Kiat lainnya dilakukan dengan kerja sama mahasiswa beberapa universitas di Bandung yang sedang melaksanakan kuliah kerja nyata dan praktik kerja lapangan di desanya. Lewat lomba membaca, kegiatan itu diharapkan bisa menumbuhkan minat baca pada anak-anak.

”Hadiahnya seadanya, disediakan secara patungan oleh para mahasiswa,” katanya.

Kecamatan Darangdan terdiri atas 17 desa, tetapi hanya delapan desa yang menjadi daerah operasinya. Desa-desa itu dikunjungi secara rutin. Letak antara satu desa dan desa lain berjauhan. Tak jarang ia harus melewati daerah-daerah sepi yang merupakan perkebunan teh rakyat. Kecamatan Darangdan merupakan salah satu pusat perkebunan teh rakyat. Setiap hari ia menempuh jarak puluhan kilometer dengan berjalan kaki.

Pengalamannya yang tak terlupakan terjadi pada akhir 1996. Pulang dari Desa Nangewer, hujan turun rintik-rintik. Mbah Udju bergegas karena hari sudah senja. Buku dan majalah disimpan dalam buntelan kain, kemudian diselendangkan di bahunya. Tanpa rasa takut, ia berjalan seorang diri melewati tempat sunyi dan jauh dari perkampungan penduduk. Tiba-tiba dari arah belakang muncul sepeda motor yang dikendarai tiga orang berbadan tegap.

Salah seorang di antaranya turun lalu menodongkan senjata tajam. Bungkusannya direbut dan uang Rp 6.500 dirampas. Namun, setelah beberapa ratus meter, bungkusan buku dan majalah itu dilemparkan. Isinya berserakan. Mbah Udju sedih. Mungkin bungkusan itu mereka kira berisi kain atau bahan pakaian yang biasa dijajakan ke kampung-kampung.

Sejak itu Mbah Udju memutuskan, dua desa dia lepaskan.

Hasil sumbangan

Bekerja sampai menjelang malam dan pulang dengan keringat bercucuran, penghasilannya setiap hari Rp 8.000, paling banyak Rp 15.000.

”Kadang-kadang hanya Rp 3.000,” kata istrinya, Heni Saeni.

Pendapatannya yang tak seberapa itu jauh dari memenuhi kebutuhan. Apalagi, anak bungsunya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Maka, ketika ada wartawan setempat seusai mewawancara meminta biaya publikasi sebesar Rp 300.000, Mbah Udju menjawab, ”Uang pensiun saya dalam sebulan saja tak sebesar itu.”

Sejak tahun 2006 Mbah Udju menjalani pensiun. Setiap bulan ia menerima Rp 232.000. ”Hanya cukup untuk beli beras dan bayar listrik,” istrinya menimpali.

Hidup sederhana, tetapi tetap memiliki optimisme menumbuhkan minat baca penduduk desa, sejak 1992 perpustakaannya dinamakan Perpustakaan Saba Desa yang artinya keliling desa. Bangunannya menempati salah satu ruangan rumahnya yang hanya bisa dicapai dengan berjalan setapak di Kampung Ngenol RT 10 RW 3. Di tempat ini buku dan majalah tersimpan rapi dalam rak. Sebagian buku dan majalah masih ditumpuk begitu saja.

Ratusan buku dan majalah itu adalah sumbangan penerbit dan masyarakat setelah mereka membaca permohonan Mbah Udju yang disampaikan lewat surat pembaca. Salah seorang di antaranya, Ny Made Hidayat dari Jakarta, menjadi penyumbang setia sejak 1992.

Mbah Udju mengirimkan surat-surat itu dengan tulisan tangan. ”Boro-boro dengan komputer, mesin ketik saja tak ada,” katanya.

(HER SUGANDA Pengurus Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat)

Posted by: djarotpurbadi | April 2, 2009

Taman Siswa: Bertahan dengan Penerapan Budaya Jawa

KOMPAS: Rabu, 1 April 2009 | 16:18 WIB

Oleh Defri Werdiono

Ketika pemerintah mengimbau sekolah memberi nama kelas dengan tokoh wayang, sejumlah tokoh Pandawa sudah menjadi nama ruang kelas dan kantor pamong Taman Muda Taman Siswa Ibu Pawiyatan.

Nama-nama yang ditulis dengan aksara Jawa, seolah menyadarkan tak ada yang berubah dengan sekolah hasil buah pikir Ki Hadjar Dewantara itu. Di tengah gempuran globalisasi, Taman Siswa terus mempertahankan kebudayaan adiluhung nenek moyang.

Ketika banyak sekolah membuat papan nama dan moto berbahasa Inggris yang tergantung atau tertempel di dinding, ternyata Taman Siswa memilih cara lain. Meski, mereka tak menolak masuknya bahasa lain, termasuk bahasa Inggris untuk diajarkan kepada anak didik.

Rupanya ajaran Ki Hadjar Dewantara mengenai fase budaya yang dikenal dengan istilah trikon, yakni kontinu (budaya lama dan budaya baru terus berhubungan), konvergen (ada hubungan dengan budaya luar), dan konsentris (budaya sendiri tetap diuri-uri, tetapi juga menyerap budaya luar yang sesuai jati diri bangsa) menjadi salah satu benteng agar warga Taman Siswa tak terlalu larut dengan budaya asing. Ki Hadjar sangat menyadari bahwa karakter anak bangsa ditentukan oleh budayanya sendiri.

“Ki Hadjar percaya budaya, berupa kesenian, etika, estetika merupakan media yang paling tepat untuk menanamkan dan menerapkan pendidikan karakter. Dulu penanaman itu kental sekali sehingga Taman Siswa dikenal sebagai sekolah berbasis budaya,” ujar Ki Prijo Mustiko Ketua I Harian Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, Selasa (31/3).

Menurut Ki Prijo, asas trikon itu benar-benar diterapkan dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Pelaksanaannya sangat disesuaikan dengan tumbuh kembang anak. Sebab, Ki Hadjar yakin inti dalam pendidikan among adalah guiding education yang mempertimbangkan perkembangan jiwa, bukan directing education yang selalu menjejali siswa dengan segala macam materi, padahal mereka belum siap menerima itu semua.

Lantas, bagamana cara “menyuntikkan” rasa berbudaya kepada para anak didik di Taman Siswa agar benar-benar masuk dalam sanubari? Ternyata upaya itu sudah dilakukan sejak dini atau ketika mereka masih duduk di bangku Taman Indria (TK). Para pamong akan mengasah kepekaan naluri anak-anak dengan berbagai permainan tradisional.

“Kami ingin naluri anak yang masih kecil sudah dilatih dengan budaya sendiri. Sekarang, kan, tidak. Banyak anak TK yang sudah dijejali bahasa Inggris. Kami tidak, kepekaan indria itulah yang kami latih,” ucap Ki Prijo sembari mengklarifikasi bahwa seni dan budaya yang diberikan pada siswa disesuaikan dengan daerah masing- masing karena cabang Taman Siswa berada di seluruh Indonesia.

Begitu pula saat usia mereka bertambah. Saat memasuki jenjang Taman Muda (SD), maka anak-anak materi budaya yang diberikan kian bertambah. Satu hari dalam seminggu, para anak didik di Taman Muda Ibu Pawiyatan dibiasakan saling sapa dalam bahasa Jawa. Begitu pula para pamong kepada anak didik atau pamong kepada pamong, dibiasakan untuk bercakap dalam bahasa daerah.

Melalui bahasa daerah inilah, Taman Siswa yakin bisa menjadi media yang tepat untuk menanamkan budi pekerti kepada anak didik yang akhirnya berpengaruh pada pembentukan karakter. Budi pekerti, menurut Ki Prijo tidak menjadi mata pelajaran khusus melainkan selalu ditanamkan kepada anak didik pada setiap kesempatan. Para pamong memberi bekal untuk menanamkan budi pekerti, termasuk saat memberi pelajaran eksak sekalipun.

“Misalnya, guru matematika tidak hanya mengajarkan 2 x 4 = 8 tetapi juga kejujuran. Dengan harapan jika mereka sudah sukses, jadi pelaku bisnis, misalnya, tidak memanipulasi data atau mengurangi takaran. Jadi, yang kami utamakan bukan hanya dari sisi kemampuan akademik, tetapi juga budi pekerti,” ucapnya.

Selain itu, upaya lainnya adalah memasukkan kesenian dalam kegiatan ekstra dan intrakurikuler. Untuk kelas 1-2 Taman Muda ada intrakurikuler dolanan anak dalam bentuk tarian sambil menyanyi. Begitu pula untuk kelas 3 ke atas, ada kegiatan menari. Di luar itu semua, ada sejumlah kegiatan ekstrakurikuler seperti menari dan karawitan.

Demikian pula saat anak didik menduduki Taman Dewasa (SMP) dan Taman Madya (SMA) kegiatan berbau seni dan budaya tidak ditinggalkan, di samping mereka diberi kebebasan untuk bisa lebih berkreasi sehingga konsep ing madya mangun karsa benar-benar terwujud. Begitu halnya pada jenjang paling tinggi, seperti universitas ada jurusan seni tersendiri. Saat itulah mereka sudah memasuki tahapan tut wuri handayani.

Anastasia Riatriasih, Ketua Bagian Taman Muda Ibu Pawiyatan, mengatakan memang tidak mudah menerapkan semua itu kepada anak didik. Maklum, untuk berbahasa Jawa saja, misalnya, banyak anak yang kesulitan. Selama ini, mereka selalu dijejali dengan bahasa nasional dan internasional.

Mungkin kini saatnya lebih memerhatikan bahasa lokal, kecuali kalau kita semua rela budaya lokal makin hilang….

Posted by: djarotpurbadi | April 2, 2009

Rebo Pungkasan: Upacara untuk Lestarikan Bendungan

Kompas: Senin, 2 Maret 2009 | 15:08 WIB

Oleh Yoga Putra

Seabad silam, leluhur warga Desa Pendoworejo, Girimulyo, Kulon Progo, berusaha mengatur aliran Sungai Kayangan agar bisa mengairi sawah-sawah mereka yang kekeringan. Di bawah pimpinan tokoh bernama Mbah Bei Kayangan, mereka kemudian membangun bendungan air dari tanah, batu, dan kayu.

Upaya itu membuahkan hasil. Sejak bendungan terbangun, sawah yang berada di teras lereng kaki Perbukitan Menoreh itu selalu tergenang air. Sebagai wujud syukur, sebuah ritual kenduri dilaksanakan warga setiap Rabu terakhir di bulan Sapar menurut sistem penanggalan Jawa.

“Bulan Sapar dipilih karena pada bulan itulah bendungan selesai dibangun. Selain itu, bulan Sapar dimaknai sebagai bulan baik yang penuh berkah,” kata sesepuh budaya di Pendoworejo, Mulyono, Rabu (25/2).

Ritual juga untuk mengenang jasa-jasa Mbah Bei Kayangan. Orang kepercayaan Prabu Brawijaya V ini cikal-bakal keturunan warga Pendoworejo. Selain berhasil membuat bendungan, Mbah Bei Kayangan telah menerapkan sejumlah prinsip hidup masyarakat yang senantiasa dijaga hingga saat ini. Salah satunya kerukunan antarwarga.

Seperti layaknya pesta hajatan, ritual kenduri yang lalu dijuluki “Rebo Pungkasan” itu selalu berlangsung meriah. Warga akan dihibur oleh pertunjukan Ngguyang Jaran Kepang atau memandikan kuda lumping dengan aliran air Sungai Kayangan yang dipercaya mengandung berkah.

Keunikan lain dari kenduri itu, lanjut Mulyono, terletak pada jenis makanan yang disajikan. Tak hanya hidangan khas rakyat seperti nasi liwet, ingkung ayam, dan sayur gudangan saja yang disajikan, melainkan juga bothok lele dan panggang mas (telur ceplok) yang menjadi favorit Mbah Bei Kayangan.

“Kedua hidangan itu tidak bisa setiap hari dijumpai di Pendoworejo karena warga hanya membuatnya pada acara-acara khusus seperti Rebo Pungkasan kali ini,” tutur Mulyono.

Roda kehidupan senantiasa berputar. Masa kejayaan warga Pendoworejo perlahan-lahan surut hingga mereka tidak lagi mampu menggelar ritual berbiaya mahal itu. Selama 15 tahun, Rebo Pungkasan tidak lagi diadakan.

Namun, kerinduan akan kebersamaan dan spontanitas berkesenian sebagai ungkapan rasa syukur warga rupanya tak dapat lagi tertahan. Hingga akhirnya pada 2006, atas prakarsa sejumlah seniman yang tergabung dalam Paguyuban Desa Budaya Menoreh mulai menghidupkan kembali ritual Rebo Pungkasan di Bendung Kayangan.

Rabu lalu, revitalisasi budaya itu sudah berusia tiga tahun. Mata acara ritual semakin diperkaya. Kini, Rebo Pungkasan dilengkapi dengan pertunjukan tari anak-anak, tari makhluk tunggang, dan kegiatan melukis yang selalu dihadiri para pelukis kenamaan Yogyakarta seperti Godod Sutejo, Harsono, Djoko Sardjono, Dewobroto, dan pelukis lain yang tergabung dalam kelompok Selaras.

“Kami ingin mengembalikan nilai penting ritual ini kepada masyarakat sekitar. Tidak hanya sebagai ucapan rasa syukur, pengemasan ritual yang lebih atraktif juga dapat menarik minat wisatawan untuk hadir sehingga ada dampak yang mengimbas pada roda perekonomian lokal,” kata Godod.

Bendungan Kayangan sebenarnya sudah ditetapkan sebagai benda cagar budaya sekaligus obyek pariwisata di Kulon Progo. Akan tetapi, kondisi bangunan yang berusia lebih dari 100 tahun itu sudah tidak layak menjadi tujuan wisata masyarakat karena rusak di sana-sini.

Wakil Bupati Kulon Progo Mulyono yang menyempatkan diri hadir pada peringatan Rebo Pungkasan, beberapa waktu lalu, mengaku sudah mempersiapkan sejumlah rencana pembangunan sarana dan prasarana obyek wisata di Bendung Kayangan. Menurutnya, pembangunan tidak bisa dilakukan terburu-buru, melainkan harus teliti dan hati-hati agar tidak merusak bentuk asli Bendung Kayangan.

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo berencana menjadikan Pendoworejo sebagai desa wisata. Khusnul (36), ibu rumah tangga, mengatakan, jika desanya menjadi desa wisata, ia bisa mendapat penghasilan tambahan dengan berjualan makanan kepada wisatawan. Lebih dari itu, warga Bendung Kayangan tak perlu khawatir soal pendanaan ritual-ritual budaya seperti Rebo Pungkasan karena bisa diperoleh dari hasil urunan para pelaku wisata yang ada di sana. Tapi, pemerintah juga harus membina kami.

Saya sendiri tidak tahu apa-apa tentang wisata. Jangan sampai kami ini salah bersikap atau memberi informasi kepada wisatawan, nanti kami juga yang rugi, ujarnya. Hidupnya kembali ritual Rebo Pungkasan boleh jadi awal dari kebangkitan sosial, budaya, dan ekonomi Pendoworejo. Persoalannya tinggal mengaitkan masing-masing unsur dan kearifan lokal agar kuat dan andal. Semangat leluhur Mbah Bei Kayangan dalam membangun desa agaknya telah terwariskan kepada anak-cucunya….

Posted by: djarotpurbadi | March 3, 2009

Wayang Golek, Seni Adiluhung yang Makin ’Murung’

KR. 30/03/2008 05:28:05

DAHULU, di Kecamatan Sentolo Kabupaten Kulonprogo, hidup seorang dalang wayang golek atau wayang thengul bernama Ki Widiprayitno yang cukup terkenal di era tahun 1950-an hingga 1970-an. Selain dikenal sebagai dalang wayang golek, ia juga dikenal sebagai dalang wayang kulit purwa. Nama kecilnya Regut. Ia keturunan dalang dari garis ayahnya maupun garis ibunya.

Menurut UJ Katidjo Wiropramudjo (1980), kecuali termasuk dalang wayang kulit purwa yang mahir, Ki Widiprayitno juga rajin menambah pengetahuan. Pada tahun 1923 ia belajar mendalang wayang golek Menak pada dalang Ki Prawiroyoso di Desa Pengasih Kabupaten Kulonprogo, seorang dalang wayang golek Menak yang mengabdi kepada Bupati Kulonprogo (saat itu), KRT Notoprajarto. Bupati tersebut memang memiliki seperangkat wayang golek Menak.

Konon, pada tahun 1925 wayang golek Menak dengan dalang Ki Prawiroyoso juga sempat ditampilkan di arena Pasar Malam Sekaten Yogyakarta, di Alun-alun Utara Yogya. Ki Widiprayitno, bersama dengan Katidjo Wiropramudjo juga pernah belajar bersama-sama seni pedalangan di Pasinaon Dhalang Surakarta Kaayoman Radya Pustaka (Padhasuka) dan mendapat ijazah pada tahun 1935. Mereka berdua kemudian bersama-sama membina perkumpulan Persatuan Dalang Kulon Progo (PDKP).

Pada tahun 1953, Ki Widiprayitno mementaskan wayang golek Menak pada hari ulang tahun pertama Paguyuban Anggara Kasih di Yogyakarta. Pergelaran wayang golek Menak tersebut disiarkan oleh RRI Yogyakarta dan berhasil menarik perhatian banyak orang.

Sejak saat itu, wayang golek Menak hidup kembali di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan kemudian disiarkan secara periodik oleh RRI Yogyakarta. Pentas wayang golek oleh Ki Widiprayitno semakin digemari, bahkan tidak hanya di Kulonprogo atau DIY, tetapi juga sampai ke Banyuwangi Jawa Timur dan Bandung Jawa Barat. Semuanya itu berkat dukungan dan usaha Direksi Balai Besar Kereta Api. Pergelaran di Bandung dilangsungkan atas usaha almarhum dalang kenamaan, RU Partasuwanda, di Bandung. Pertunjukan itu khusus hanya diperuntukkan para dalang.

Teknik pedalangan Ki Widiprayitno amat dikagumi orang, khususnya-tehnik perangnya, sehingga seorang dalang bernama Ujang Enyuh yang kemudian tinggal di Sukabumi, pernah belajar secara khusus kepada Ki Widiprayitno. Ki Widiprayitno dan Sukarno (anaknya) bahkan pernah melanglang buana ke Mesir, Eropa Timur dan Rusia (1958), India dan RRC (1961).

LAKON atau cerita wayang golek Menak berbeda dengan wayang golek Sunda. Wayang golek Sunda bersumber pada Mahabarata dan Ramayana, sedangkan wayang golek Menak yang dipentaskan oleh Ki Widiprayitno berasal dari Serat Menak karya RNg Yasadipura, pujangga sastra Jawa dari Surakarta. Menurut S Haryanto (1988), cerita Menak semula bersumber dari kesusasteraan Persia pada zaman pemerintahan Sul Harun Al Rasyid (766-809) berjudul Qissai Emr Hamza. Dalam cerita ini nama-nama tokohnya disesuaikan dengan Jawa, antara lain Omar bin Omayya menjadi Umar Maya, Qobat Shehriar menjadi Kobat Sarehas, Badi’ul Zaman menjadi Imam Suwongso, Mihrnigar menjadi Dewi Retno Muninggar, Qoraishi menjadi Dewi Kuraisin, Unekir menjadi Dewi Adininggar. Amir Hamzah diganti menjadi Amir Ambyah yang juga disebut Wong Agung Menak (bangsawan agung) dan terkenal pula disebut Wong Agung Jayengrana (bangsawan yang jaya di dalam peperangan).

Dalam cerita Menak dikisahkan, bahwa Wong Agung adalah seorang putra adipati Arya Dulmuntalib yang kemudian menjadi anak angkat Betal Femur, seorang sesepuh dari negeri Medayin. Sebagai prajurit Allah, Wong Agung menyebarkan agama Ibrahim dan menaklukkan para satria dan para raja yang belum masuk Islam. Kemudian Wong Agung tersebut gugur dalam pertempuran melawan raja Jenggi dari Kerajaan Ngabesah.

Di dalam wayang golek Menak, cerita itu kemudian diadaptasi secara lebih luas lagi menjadi lakon-lakon carangan dari Serat Menak Yasadipuran, misalnya Ganggamina Ganggapati, Pedhang Kangkan Pamor Kencana utawa Prabu Rara, Rengganis, dsb.

KETENARAN wayang golek Menak kini telah tenggelam. Bahkan wayang golek sebagai kesenian yang adiluhung, kini sedang ‘murung’. Nama Ki Regut Widiprayitno (alm) sudah tidak dikenal lagi oleh generasi muda. Apalagi ceritanya. Kenyataan itu disinyalir oleh Katidjo Wiropramudjo karena tiga hal. Pertama, pendapat sebagian orang bahwa pertunjukan wayang golek Menak tidak layak untuk meriahkan pesta perkawinan, khitanan, dsb. Anggapan ini muncul karena pertunjukan wayang golek mengakibatkan hal-hal yang tidak baik bagi orang yang berhajat atau keluarganya. Kedua, wayang golek Menak dipandang kurang bermutu dibandingkan dengan wayang kulit purwa yang memiliki kedalaman kejiwaan, falsafah, perlambangan hingga Ketuhanan. Ketiga, para dalang wayang golek mungkin sudah tidak menguasai teknik memainkan wayang golek, karena memainkan wayang golek berbeda dengan memainkan wayang kulit, terutama dalam sabet peperangan dengan berbagai senjatanya.

Kondisi yang menyedihkan seperti itu sebenarnya pernah terjadi pada tahun-tahun 1920-an sampai 1940-an. Bahkan, ketika sudah memasuki zaman kemerdekaan, belum terdengar adanya usaha menghidupkan kembali wayang golek Menak, walaupun iklimnya amat baik bagi segala jenis kesenian daerah.

Kebekuan dalam hal wayang golek Menak itu berjalan cukup lama. Baru pada tahun 1948 muncul prakarsa mengusahakan pementasan kembali wayang golek Menak. Prakarsa itu datang dari Djawatan Penerangan Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sesuai dengan tugasnya, kata Katidjo Wiropramudjo, Djawatan Penerangan saat itu memerlukan media untuk memberi penerangan kepada rakyat. Saat itu, wayang sangat digemari rakyat, sehingga dijadikan alat atau media penerangan. Pada awalnya diusahakan hingga jawatan tersebut memiliki dan menggunakan wayang suluh golek berupa boneka yang mukanya berbentuk topeng, sementara wayang suluh yang sudah dikenal masyarakat adalah dari kulit.

Usaha membuat wayang suluh golek saat itu mengalami kesulitan, karena sudah jarang orang dapat membuat (baca: mengukir) wayang golek. Di Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulonprogo, ada orang yang biasa membuat (menatah) wayang suluh kulit, namun tidak dapat mengukir wayang golek. Dari usahanya yang cukup tekun dan keras, akhirnya pada pertengahan tahun 1948 dapat diciptakan wayang suluh golek. Mukanya merupakan muka Belanda dan muka orang Indonesia yang dalam penyuluhan waktu itu merupakan tokoh-tokoh bertentangan yang perlu dihidup-hidupkan dalam hati rakyat.

Usaha rintisan itu dapat persetujuan Sekretaris Jenderal Kementerian Penerangan, Dr Roeslan Abdoelgani yang waktu itu secara langsung datang meninjau Djawatan Penerangan Kabupaten Kulonprogo di Sentolo. Beliau menyetujui menggunakan wayang suluh golek sebagai media penerangan, namun akhirnya gagal sama sekali, karena kesulitan pembiayaan dan terjadinya penyerbuan militer Belanda di Yogyakarta (clash kedua).
Setelah perang selesai, pada tahun 1953 wayang golek Menak hidup kembali hingga tahun 1980-an. Setelah itu, keadaan mulai menyurut kembali hingga saat ini.

Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian agar para penerus Ki Regut Widiprayitno seperti Ki Sukarno (putera Ki Widiprayitno), Drs Bambang Sumantri, Ki Gimin Darsosumarto, Ki Suparman Amat Jaelani alias Demung, serta dalang-dalang muda lainnya perlu memperoleh kesempatan untuk mementaskan wayang golek Menak. q -o

Penulis: Drs Dhanu Priyo Prabowo MHum, peminat seni pewayangan Jawa dan tinggal di Kulonprogo.

Posted by: djarotpurbadi | February 25, 2009

Saparan Rabu Pungkasan

Sebagai rangkaiaan tradisi& budaya yang tetap tumbuh di masyarakat, hari ini diselenggarakan Saparan Rabu Pungkasan di Bendung Kahyangan, Pendoworejo Girimulyo, Kulon Progo. Tradisi Rabu pungkasan inidalam sejarahnya merupakan ritual “climen” warga kampung Ngrancah, Kayangan, Turusan, jetis dan sekitarnya sebagai bentuk ucapan syukur atas Rahmat Allah SWT, setelah panen renddhengan usai. Bentuk ritual dimaksud adalah dengan mengadakan kenduri dan kembul dhahar di Bendung Kahyangan, sebuah bendungan (irigasi) yang melintas sungai Kahyangan peninggalan zaman Belanda yang sampai sekarang masih berfungsi baik.

Pada perkembangannya, ritual “climen” tadi sedikit bergeser settingnya pada dekade 3 tahun terakhir, setelah unsur seni dan budaya ikut andil memberi warna, sehingga acara menjadi lebih meriah, dalam bingkai kemasan seni pertunjukan luar ruang, namun tetap tidak kehilangan ruh, nilai-nilai spiritual, ancas tujuan serta makna dan harapan yang ingin direngkuh.

Sanggar Bodronoyo menjadi motor penggerak sekaligus “suh” kegiatan saparan ini dibantu dengan komunitas budaya, komunitas seniman (tari, lukis, teater, musik) mencoba memadukan dalam bentuk ekspresi dan kolaborasi kreatif, yang dikoordinir oleg seniman lukis Godod Sutejo dan sie arena Arjuni Rini.

Sebagaimana “kesepakatan” para motor penggeraknya, Saparan Rabu Pungkasan di Bendung Kahyanagan tetap steril dari kepentingan dari pihak manapun termasuk pihak birokrasi dan pemerintah. “kami ingin belajar menempatkan seni dan budaya lebih merdeka, karena pada hakekatnya urusan ritual, seni dan budaya adalah urusan rakyat murni, tidak boleh dicampuri dengan urusan lain dari pihak manapun” ujar salah satu panitia.

Hari ini prosesi dimulai dari Sanggar Bodronoyo dengan menggotong gunungan dan sejumlah sesaji menuju Bendung Kahyangan. Ada sesuatu yang baru dalam upacara hari ini, yakni iring-iringan prosesi bukan dikawal oleh prajurit, tetapi dikawal oleh Jathilan Punokawan yang lucu-lucu. Setelah sampai Kahyangan segera dilaksanakan kenduri dan Kembul dhahar, dilanjutkan beberapa pertunujkan seni, pameran dan pesta rakyat. salam damai KJG

Sumber: email Ki Jogogati, 25 Februari 2009

Older Posts »

Categories